KKN STISNU Ciptakan Warisan Hijau: Gerakan Biopori di Desa Cikondang
CIKONDANG — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STISNU bekerja sama dengan warga Desa Cikondang menggelar kegiatan pembuatan biopori sebagai langkah nyata menjaga ketersediaan air tanah dan kelestarian lingkungan. Aksi ini menjadi salah satu program pengabdian masyarakat yang memberi manfaat jangka panjang sekaligus edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Latar Belakang: Air, Sumber Kehidupan
Air adalah kebutuhan pokok yang bernilai tak terhingga. Di banyak kampung, keberadaan sumur menjadi solusi vital untuk pemenuhan air bersih rumah tangga. Begitu pula di Desa Cikondang, sebagian besar warga memanfaatkan sumur sebagai sumber utama air sehari-hari. Namun, penggunaan sumur yang tidak terkendali berpotensi menurunkan muka air tanah dan memicu amblesan tanah—dampak lingkungan yang dapat merugikan infrastruktur dan ekonomi warga.
Peran Biopori dalam Menjaga Lingkungan
Biopori—lubang resapan vertikal—hadir sebagai solusi sederhana yang efektif. Dengan meningkatkan daya resap air hujan ke dalam tanah, biopori membantu mengisi ulang akuifer yang ditarik oleh penggunaan sumur. Dengan demikian, meski warga banyak mengandalkan sumur, biopori memastikan ketersediaan air tanah tetap terjaga. Praktik ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mudah diterapkan oleh masyarakat di pekarangan rumah masing-masing.
“Ketika sumur mengambil, biopori mengembalikan.” Prinsip ini menjadi semangat mahasiswa KKN STISNU dalam mengajak warga berkolaborasi.
Kolaborasi KKN STISNU dan Warga
Kegiatan biopori ini dilaksanakan bersama masyarakat setempat dengan semangat gotong royong. Mahasiswa KKN STISNU memberikan sosialisasi cara membuat biopori yang benar, lalu warga ikut langsung mempraktikkannya di halaman rumah maupun fasilitas umum desa. Hal ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara dunia akademik dengan masyarakat.
Tanggapan Warga dan Aparat Desa
“Kami sangat mengapresiasi program ini. Biopori adalah solusi sederhana yang bisa membantu menjaga lingkungan Desa Cikondang tetap lestari.” — Bapak Yusef Zohan, Kepala Desa Cikondang
“Program ini sangat bermanfaat. Selain menambah ilmu bagi masyarakat, juga menjadikan lingkungan lebih sehat.” — Bapak Dede, Ketua RT Desa Cikondang
“Kami sebagai warga merasa terbantu. Mahasiswa KKN STISNU tidak hanya mengajarkan, tetapi juga turun langsung mendampingi kami.” — Ibu Aii, Perwakilan Masyarakat Desa Cikondang
Perspektif Maqashid Syariah
Dari kacamata Maqashid Syariah, program biopori ini sejalan dengan tujuan syariat Islam dalam menjaga lima aspek utama kehidupan:
- Hifzh an-Nafs (Menjaga Jiwa): Biopori membantu mencegah banjir dan penyakit yang ditimbulkan oleh genangan air.
- Hifzh al-Maal (Menjaga Harta): Dengan menjaga kualitas tanah dan air, masyarakat terhindar dari kerugian ekonomi akibat kerusakan lingkungan.
- Hifzh al-Bi’ah (Menjaga Lingkungan): Meski tidak disebutkan secara eksplisit dalam lima pokok utama, menjaga alam adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia.
- Hifzh an-Nasl (Menjaga Keturunan): Menyediakan lingkungan sehat bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
- Hifzh al-‘Aql (Menjaga Akal): Edukasi tentang biopori meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
Rekomendasi Praktik di Tingkat Desa
- Program Biopori Massal: Pembuatan lubang resapan di pekarangan, fasilitas umum, dan area rawan genangan.
- Aturan Pemanfaatan: Mendorong penggunaan hemat air dan pembatasan pengeboran sumur berlebih.
- Edukasi Berkelanjutan: Sosialisasi manfaat biopori kepada anak-anak sekolah dan warga.
- Monitoring & Perawatan: Peremajaan biopori setiap musim hujan agar tetap berfungsi optimal.
Penutup
Program biopori yang digagas mahasiswa KKN STISNU ini menunjukkan bahwa langkah sederhana bisa membawa dampak besar. Selain menjaga ketersediaan air tanah, kegiatan ini memperkuat ikatan sosial antara mahasiswa dan warga Desa Cikondang. Dari perspektif Maqashid Syariah, program ini menjadi bukti bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
STISNU Cianjur melakukan kunjungan KE 4 Perguruan Tinggi di Jawa Barat
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nahdlatul Ulama Cianjur melaksanakan kunjungan ke 4 Perguruan Tinggi di Jawa Barat dalam rangka benchkmarking sekaligus melaksanakan Memorandum of Und
